Tanpa Judul
Rintik hujan di pagi ini, benar-benar membuat orang malas
beranjak dari tempat tidurnya,sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat
suci Al-Qur’an. Suara lantunan itu berasal dari bibir kecilnya Alya, seorang
anak yatim yang berusia 8 tahun, tidak pernah lupa membacakan ayat-ayat
Al-Qur’an untuk almarhum bapaknya. “sodaqallahhuladzim”, Alya mengakhiri
bacaannya dengan menutup Al-Qur’an dan menciumnya. Dengan penuh semangat, ia
segera mengambil buku tulis dan pensil, kemudian ia mulai menggoreskan tulisan
pada buku tersebut, kata demi kata tersusun hingga menjadi sebuah kalimat,
kalimat demi kalimatpun menjadi sebuah paragraf. Alya terus menorehkan
pensilnya hingga ia menghasilkan beberapa paragraf hasil dari goressan pensilnya.
Alya menulis surat untuk ibunya, yang bekerja di Jakarta.
Dan karena ini adalah surat untuk sang ibu,ia tidak ingin membuat kesalahan
pada suratnya, dengan segera ia membaca
tulisannya, dan membenahi kata-kata yang menurutnya kurang tepat. Alya selalu
mengirim surat pada ibunya, ia bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, dan
pengalaman yang dilaluinya sepanjang hari, apaun itu ia ceritakan semua kepada
ibunya. Mulai dari giginya yang mulai bergoyang karena akan tanggal, sampai tentang nenek dan kakeknya yang selalu
memberikan nasehat-nasehat kepada dia, dan adiknya.
Aulia, seorang gadis kecil yang kuat dan gigih berusia 6
tahun. Ya, Aulia adalah adik Alya. Aulia sendiri lebih berani daripada Alya.
Alya anak pemalu, sedangkan Aulia tidak pernah merasa minder. Walaupun kedua
anak ini mempunyai perbedaan,mereka juga mempunyai kesamaan, mereka kritis
terhadap hal-hal yang belum diketahuinya, ataupun sesuatu yang baru
didengarnya. Pasti mereka akan terus bertanya sampai rasa penasarannya
terjawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar