Teman melalui apapun

Teman melalui apapun
karena bersama mereka aku belajar memahami kehidupan, dan segala hal yang tak pernah kubayangkan akan berhasil aku lalui tanpa mereka :)

Minggu, 27 September 2015

Tanpa Judul

Rintik hujan di pagi ini, benar-benar membuat orang malas beranjak dari tempat tidurnya,sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suara lantunan itu berasal dari bibir kecilnya Alya, seorang anak yatim  yang berusia 8 tahun,  tidak pernah lupa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk almarhum bapaknya. “sodaqallahhuladzim”, Alya mengakhiri bacaannya dengan menutup Al-Qur’an dan menciumnya. Dengan penuh semangat, ia segera mengambil buku tulis dan pensil, kemudian ia mulai menggoreskan tulisan pada buku tersebut, kata demi kata tersusun hingga menjadi sebuah kalimat, kalimat demi kalimatpun menjadi sebuah paragraf. Alya terus menorehkan pensilnya hingga ia menghasilkan beberapa paragraf hasil dari goressan pensilnya.
Alya menulis surat untuk ibunya, yang bekerja di Jakarta. Dan karena ini adalah surat untuk sang ibu,ia tidak ingin membuat kesalahan pada suratnya, dengan segera  ia membaca tulisannya, dan membenahi kata-kata yang menurutnya kurang tepat. Alya selalu mengirim surat pada ibunya, ia bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, dan pengalaman yang dilaluinya sepanjang hari, apaun itu ia ceritakan semua kepada ibunya. Mulai dari giginya yang mulai bergoyang karena akan tanggal,  sampai tentang nenek dan kakeknya yang selalu memberikan nasehat-nasehat kepada dia, dan adiknya.

Aulia, seorang gadis kecil yang kuat dan gigih berusia 6 tahun. Ya, Aulia adalah adik Alya. Aulia sendiri lebih berani daripada Alya. Alya anak pemalu, sedangkan Aulia tidak pernah merasa minder. Walaupun kedua anak ini mempunyai perbedaan,mereka juga mempunyai kesamaan, mereka kritis terhadap hal-hal yang belum diketahuinya, ataupun sesuatu yang baru didengarnya. Pasti mereka akan terus bertanya sampai rasa penasarannya terjawab.

Selasa, 22 September 2015

Sebuah Penantian akan Kerinduan

Ulya Yana
Semarang, 23 September 2015
Sejuk menyambutku tatkala aku masuk
Senyum ramah yang ikhlas dan hangat itu
Diperuntukkan untukku
Senyap menyelimuti suasana disana
Hening menghinggapi setiap orang
Ya, nyamanpun selalu dirasa mereka

Kumpulan lembaran-lembaran kertas
Bermesraan dengan kawannya
Ya, mereka saling mendekap satu sama lain
Mereka saling memeluk satu sama lain
Mereka saling menghangatkan satu sama lain

Kata demi kata yang menyatu menjadi kalimat
Dan seterusnya hingga wacana
Karena tanpa kata, tak mungkin ada makna
Bagaimana juga membuat makna tanpa kata?
Bagaimana membuat arti tanpa kata?

Di tempat inilah, segala pengetahuan ada
Segala ilmu yang setia menunggu
Untuk disentuh oleh akal fikiran kita
Juga rindu pada jari jemari yang membelai

Lembar demi lembarnya

Senin, 14 September 2015

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
 
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
 
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
 
Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
 
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
 
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
 
Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
 
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
 
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
 
Februari 1943

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Pagi hari adalah saat paling dinanti oleh banyak orang, karena banyak orang yang menunggu pagi, entah ingin menyelesaikan urusannya yang kemarin, atau ingin memulai hari baru. banyak yang berharap mendapatkan pagi yang indah, dengan begitu akan dapat menjalani kegiatan yang akan dijalani pada sehari ini. begitupun denganku, pasti aku berharap mendapatkan pagi yang indah.